Rabu, 06 Juni 2012

Azis: Wamen Mesti Diberhentikan Terlebih Dulu

Azis: Wamen Mesti Diberhentikan Terlebih Dulu

Kristian Ginting
06/06/2012 13:26
Liputan6.com, Jakarta: Wakil Ketua Komisi Hukum DPR Azis Syamsuddin mengatakan putusan Mahkamah Konstitusi terkait jabatan wakil menteri atau wamen mestinya berada dalam status quo. Karena itu, imbuh dia, para wamen yang ada sekarang tak boleh melakukan aktivitas hingga ada revisi terhadap keputusan presiden atau keppres.

"Putusan MK itu mestinya wamen diberhentikan terlebih dulu. Lalu direvisi keppres-nya itu," kata Azis di DPR, Jakarta, Rabu (6/6). Azis menegaskan, putusan MK yang berkekuatan hukum mestinya dijalankan oleh pemerintah.

Bila sampai kini masih ada wamen yang beraktivitas, Azis meminta agar dimaklumi saja. "Ya kita maklumi sajalah," ucapnya. Ia enggan berkomentar terakit keberadaan jabatan wamen itu.

Tapi, menurut pria kelahiran 1970 itu, para menteri sebenarnya sudah dibantu oleh direktur jenderal dalam melaksanakan tugas-tugas birokrasinya. "Secara birokrasi masih bisa dibantulah," ucapnya.(ALI/ANS)

Angin Ribut Rusak 20 Rumah di Tapanuli

Angin Ribut Rusak 20 Rumah di Tapanuli

Dohar Franklin Sianipar
06/06/2012 14:05
Liputan6.com, Pandan: Angin puting beliung disertai hujan deras mengamuk sepanjang Selasa malam hingga Rabu (6/6) pagi di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Angin berpusar sempat membuat para pengguna jalan protokol di Tapanuli Tengah panik. Para pengendara berupaya menghindar dari tiupan angin kencang tersebut.

Angin ribut juga membuat pepohonan tumbang dan menutupi badan jalan. Rumah dan kios warga banyak yang rusak. Di Kecamatan Pandan, ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah, sedikitnya 20 rumah rusak diterjang puting beliung. Tak ada korban jiwa, namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Kerusakan terparah terjadi di Gang Pena, Kelurahan Kalangan. Bubungan rumah dan atap terbang diterpa angin kencang. Bahkan atap rumah warga ada yang tersangkut di kabel listrik sehingga listrik padam sementara waktu.

Dalam dua pekan terakhir, angin kencang kerap melanda wilayah Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga, Sumatra Utara. Cuaca buruk ini membuat warga ketakutan, sehingga banyak yang mengungsi ke lokasi yang aman.(ANS)


Djokovic Harus Berjuang Keras Singkirkan Tsonga

Djokovic Harus Berjuang Keras Singkirkan Tsonga

Tim Liputan 6 SCTV
06/06/2012 14:20 | Tenis
Liputan6.com, Paris: Novak Djokovic berjuang keras dalam pertandingan lima set untuk maju ke putaran semi final Prancis Terbuka. Djokovic mengamankan empat match point melawan Jo-Wilfried Tsonga ketika mengukir angka kemenangan 6-1, 5-7, 5-7, 7-6 (8/6), 6-1 pada laga perempat final.

Kemenangannya atas Tsonga merupakan yang ke-26 berurutan dalam turnamen grand slams, kendati ia harus berjuang mati-matian melawan petenis Prancis yang sempat mendapatkan empat match point pada set keempat. "Pertandingan luar biasa," kata petenis asal Serbia tersebut.

Kekalahan bagi Tsonga, menyebabkan mimpinya menjadi petenis pertama Prancis yang meraih gelar di Roland Garros sejak Yannick Noah pada 1983, tetap masih menjadi impian. "Saya sudah mengeluarkan semua kemampuan saya," ungkap petenis tuan rumah ini.

"Saya nyaris mendapatkannya dan saya amat senang bila menang. Memalukan, karena saya sudah amat dekat dengan kemenangan itu tapi akhirnya tenaga saya seperti hilang," katanya. "Sekarang, saya harus menutup bab pertandingan ini," katanya.

Kunci permainan itu terjadi pada game kesembilan set keempat ketika Tsonga punya dua match point. Pada dua game berikutnya ia mendapat angka dan terjadi tie-break. Djokovic kecolongan 2-4 tapi Tsonga tak mempertahankan keunggulannya dan Djokovic bangkit lagi memaksa diadakan set kelima dan memenanginya.

Setelah kemenangannya di Wimbledon, AS Terbuka dan Australia Terbuka, Djokovic berusaha menjadi petenis ketiga yang meraih empat gelar Grand Slam pada musim sama dan sebagai petenis pertama dalam 43 tahun.(ANT/JUM)

Djoko Santoso Menghadap Menpora

Djoko Santoso Menghadap Menpora

Tim Liputan 6 SCTV
06/06/2012 14:26 | Bulutangkis
Liputan6.com, Jakarta: Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso menghadap ke Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng di Kantor Kemenpora, Jakarta, Rabu (6/6). Djoko mendatangi Kemenpora didampingi sejumlah pengurus induk cabang olahraga bulutangkis nasional seperti Sekjen PB PBSI Yacob Rusdianto serta Chritian Hadinata.

"Saya selaku ketua umum PBSI melaporkan kepada bapak Menteri bahwa bulutangkis Indonesia kalah dari Jepang, saya mohon maaf. Saya telah mengadakan evaluasi, menampung semua aspirasi, dan usulan untuk saya sampaikan kepada pak menteri. Kami akan berusaha sungguh-sungguh ke depan," kata Djoko setelah bertemu dengan Menpora.

Dalam kesempatan tersebut, PBSI bersama Menpora membicarakan langkah-langkah ke depan untuk membangkitkan prestasi bulutangkis Indonesia. "Memang ada kekalahan dari Thomas Cup, tetapi saya minta PBSI tetap fokus karena dalam waktu dekat kita akan menghadapi Olimpiade dan kita harus tetap berjaya di situ," kata Menpora.

Sebelumnya, pada Selasa lalu, Menpora menerima kunjungan mantan atlet seperti Rudi Hartono, Joko Supriyanto, Ivana Lie, Imelda Wiguna, Deny Kartono, dan Rosiana Tendean. Mantan atlet bulutangkis nasional itu meminta Menpora memberi kesempatan bagi mereka berdialog dengan PBSI mencari langkah-langkah untuk memajukan prestasi bulutangkis nasional.

"Perlu dicarikan waktu yang pas untuk dialog antara PBSI dengan mantan atlet. Pertama, mereka mungkin ingin memberikan masukan-masukan kepada PBSI, tetapi mereka juga harus mendengarkan apa yang sudah dilakukan oleh PBSI selama ini.... PBSI pada dasarnya sangat terbuka untuk menerima masukan-masukan," kata Menpora.(ANT/JUM)

Alasan Wanita Melakukan Seks Berisiko

Alasan Wanita Melakukan Seks Berisiko

Rizki Gunawan
06/06/2012 14:21 | Seksologi
Liputan6.com, Jakarta: Wanita yang melakukan seks bebas yang berisiko kerap dikenal sebagai wanita yang bermoral buruk dan berpendidikan rendah. Tapi tidak demikan dalam penelitian yang dilakukan Lisa Antao dalam Times of India, Rabu (6/6).

Penelitian tersebut dilakukan terutama di kalangan perempuan Afrika-Amerika yang sebagian besar mengalami masalah sosial-ekonomi.

Lisa menyatakan, kekerasan yang dialami pada wanita sewaktu kecil merupakan pemicu utama kenapa wanita tersebut rela, bahkan senang berhubungan seks berisiko. Jadi, wanita yang melakukan seks bebas belum tentu seorang wanita "nakal". Bisa juga wanita yang bermartabat dan berpendidikan tinggi.

Menurut Lisa, seks bebas di sini diartikan sebagai rela berhubungan tubuh tanpa pelindung, menggunakan kondom, ngobat sebelum berhubungan seks, bahkan nekat melakukan seks anal. Wanita yang mau melakukan hubungan seks sukarela tidak memperdulikan dampaknya, seperti hamil tanpa rencana dan terjangkit HIV/AIDS.

Sejalan dengan Lisa, seorang psikiater bernama Dr Anjali Chhabria menyatakan, sepanjang 20 tahun menangani pasien, ia menemukan bahwa kekerasan dan pelecehan seksual yang pernah menimpa seorang wanita di masa lalu membuatnya rela untuk melakukan seks berisiko tersebut.

Lebih lanjut lagi, Chhabria menjelaskan, wanita yang pernah mengalami kekerasan akan lebih toleran untuk melakukan kekerasan. Saat bosan melakukan hubungan seks yang itu-itu saja, wanita tersebut akan meminta pasangannya mencoba suasana baru.

Untuk itu, diperlukan adanya pencegahan terhadap kekerasan rumah tangga kepada anak perempuan. Selain itu, diperlukan juga adanya pendidikan seks terhadap remaja yang berkaitan dengan risiko, seperti kehamilan di luar nikah dan HIV/AIDS.(RZK/MEL)

Api Kekerasan di Suriah, Sampai Kapan?

Api Kekerasan di Suriah, Sampai Kapan?

Rizki Gunawan dan Vincent Hakim
27/04/2012 10:39
Liputan6.com, Jakarta: Rentetan perubahan besar melanda beberapa negara di kawasan Arab. 'Arab Upspring' terjadi di Timur Tengah dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Perubahan itu ditandai oleh tumbangnya para pemimpin yang sangat berpengaruh dan telah berkuasa secara otoriter puluhan tahun.

Revolusi di tanah Arab itu diawali dari negeri Tunisia. Kekuasaan Presiden Ben Ali yang korup tumbang oleh percikan api perlawanan yang dilakukan pemuda pedagang asongan. Percikan api antikediktatoran merembet ke Mesir. Rezim Hosni Mubarak yang korup dan berkuasa puluhan tahun itu pun ambruk.

Api perlawanan rakyat atas kekuasaan kaum diktator meluas hingga menginspirasi kawasan utara Benua Afrika. Negeri Libia pun dijilat api revolusi perlawanan rakyat. Penguasa absolut diktator Muammar Khadafi runtuh. Bahkan nyawa pemimpin Libia yang sempat menyatakan diri antibarat itu meregang di tangan rakyatnya sendiri. Khadafi tewas ditembak.

Kini Bahrain dan Suriah juga bergolak. Setahun sudah Suriah dilanda situasi krisis politik dan sosial. Sebagian rakyatnya menentang dan angkat senjata melawan kekuasaan Presiden Bashar al-Assad. PBB mencatat 10.000 ribuan warga tewas akibat aksi kekerasan di Suriah. Ratusan jiwa kini menjadi pengungsi [baca: Ribuan Warga Suriah Kabur ke Turki]. Sementara sekitar 150 ribu orang ditangkap dan dipenjara oleh penguasa.

Ancaman sanksi dari negara-negara yang masuk dalam komunitas Liga Arab nyaris tak digubris Presiden Assad. Demikian pula, tekanan yang disampaikan Barat seolah tak dianggap penguasa Suriah itu. Bentrokan bersenjata dan aksi kekerasan terus terjadi dan memakan korban jiwa warga sipil. Pemerintah pendukung Presiden Assad menghadapi kelompok oposisi dan kaum pemberontak sipil dengan kekuatan militer dan senjata berat. Krisis Suriah telah berlangsung lebih dari setahun dan tercatat sebagai kondisi terburuk yang paling lama dibanding krisis di Tunisia, Mesir, dan Libia.

Pihak oposisi menyatakan, sebanyak 130 tank dan kendaraan lapis baja telah menyapu bersih wilayah Deraa, Idlib, dan kawasan pantai dekat al-Haffa.

"Mereka telah membumihanguskan tempat kelahiran kita," kata seorang warga yang menjadi korban aksi militer pemerintah.

Apa yang sebenarnya terjadi di Suriah?

Dalam sebuah diskusi tentang Suriah yang dilakukan oleh para mahasiswa Muslim Scientist Community Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta terungkap bahwa biang dari krisis berkepanjangan di Suriah itu tak bisa dilepaskan dari andil Amerika Serikat dan Inggris.

Menurut mahasiswa S2 program studi Kajian Timur Tengah, Ahmad Jaelani, AS dan Inggris telah menggunakan kelompok oposisi untuk upaya menumbangkan Assad.

Pasti ada kepentingan ekonomi dan politik di balik tekanan Barat atas Presiden Assad dan dukungannya atas perlawanan kaum demonstran. Analisis ini berdasarkan pada tinjauan historis, ketika Inggris menguasai Suriah di masa pemerintahan boneka Presiden Shukri al Quwatli (1943). Kemudian AS mulai ikut campur di negeri tersebut pada 1949 yang menyebabkan adanya konflik kepentingan imperialistik antara Inggris dan AS. Beberapa kali pergantian presiden terjadi di negeri ini. Di antaranya, penggulingan Shukri al Quwatli oleh Jenderal Husni Zaim, 30 Maret 1949. Husni Zaim dikenal punya hubungan sangat dengan AS. Tak lama setelah itu, hanya berselang waktu lima bulan, Kolonel Sammi al Hinnawi melakukan kudeta.

Revolusi terus berulang. Kolonel Adib al Syisyakli menumbangkan Kolonel Sammi al Hinnawi, Desember 1949. Di masa kekuasaan Adib al Syisyakli, Suriah sempat bersatu dengan Libanon pada 1950. Hanya empat tahun berkuasa, Kolonel Adib pun digulingkan oleh kaki tangan Inggris dengan dukungan Irak.

Situasi tak menentu terjadi di Suriah. Parlemen lemah dan konstitusi tak kuat. Dalam kondisi itulah muncul tokoh baru Hafez al Assad pada 1971. Tokoh ini yang didukung Partai Baath dalam perkembangannya kemudian sangat berpengaruh di kawasan Timur Tengah. Hafez Assad berkuasa selama 30 tahun. Selama pemerintahannya, militer begitu berkuasa.

Pengaruh AS terhadap Suriah masih saja begitu besar. Bahkan setelah Bashar al-Assad menggantikan ayahnya, Hafez al Assad menjadi presiden (10 Juni 2000), pengaruh AS tetap saja dominan. Pihak oposisi menuduh banyak kebijakan pemerintahan Assad yang lebih menguntungkan diri dan kelompoknya. Itulah yang kemudian membuat rakyat bergolak. Rakyat di antaranya menuntut dicabutnya Undang-Undang Darurat 1963 yang amat mengungkung kebebasan warga negara dan media massa.

Ketika Presiden Bashar al-Assad kemudian mencabut UU Darurat pertengahan April lalu [baca: Suriah Umumkan Pencabutan UU Keadaan Darurat], rakyat sudah telanjur kecewa dan justru berkembang menuntut dirinya mundur. Perlawanan rakyat kian melebar dan kelompok anti-Assad makin membesar dan menyebar ke seluruh Suriah. Krisis Suriah pun semakin panjang dan dunia pun ikut terkena getahnya [baca: Suriah Kembali Tegang, Minyak Naik Lagi].

PBB ikut turun tangan membantu memperbaiki situasi di Suriah. Namun Presiden Assad sepertinya tak menggubris. Kelompok Liga Arab pun berupaya mengutus mantan Sekjen PBB Kofi Annan untuk membantu mencari solusi damai atas krisis yang terjadi di Suriah, tapi belum juga mendapatkan hasil. Kekerasan terus terjadi, gencatan senjata tak berjalan dan bahkan dilanggar [baca: Annan Gagal Bujuk Assad Hentikan Kekerasan].

Beberapa negara dalam komunitas Uni Eropa bahkan sampai menekan dan mengancam pencekalan terhadap istri Assad, Asma al-Assad dan keluarga yang mempunyai dua kewarganegaraan Suriah dan Inggris [baca: Asma al-Assad dan Kerabat Dicekal Masuk Eropa]. Itu pun, masih tidak membuahkan hasil.

Konflik di Suriah, menurut buku A Peace to End All Peace yang ditulis David Fromkin, tak terlepas dari akar masalah ribetnya persoalan di Timur Tengah. Yakni dalam kaitan pembagian bekas Kekaisaran Turki Ottoman atau Utsmaniyah pasca Perang Dunia I.

Sebagian besar negara di kawasan Timur Tengah beraliansi ke Barat. Sementara Suriah lebih cenderung ke Rusia. Ketika Suriah dilanda konflik kekerasan internal, negara-negara Barat mulai masuk melalui pintu 'anti-kekerasan' yang memang sangat relevan dengan kondisi aktual rakyat. Pemerintah berusaha meredam aksi perlawanan dengan kekuatan militer. Rakyat dan pihak oposisi melawan dan bahkan menentang langsung Presiden Assad [baca: Oposisi Tolak Ajakan Dialog Presiden Assad].

Kepedulian dunia internasional yang tergabung dalam "Teman-Teman Suriah" yang digalang AS berhasil mengumpulkan 60 negara untuk mendukung gencatan senjata di Suriah. Pertemuan yang digelar Februari lalu di Tunisia itu bersepakat memberikan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Suriah yang sedang dilanda konflik.

Aksi solidaritas ini, 1 April lalu menindaklanjuti hasil pertemuan Annan dengan Assad digelar di Istanbul, Turki. Salah satu hasil pertemuan yang diikuti oleh perwakilan dari 71 negara tersebut adalah meningkatkan tekanan kepada rezim Bashar al-Assad dan mengakhiri penindasan rakyat Suriah.

Kita lihat saja, apa yang akan terjadi selanjutnya di Suriah. Sampai kapan api kekerasan akan terus berlangsung? (* dari berbagai sumber)

Dua Bangunan Proyek Hambalang Sengaja Dirobohkan

Dua Bangunan Proyek Hambalang Sengaja Dirobohkan

Riski Adam
30/05/2012 17:22
Liputan6.com, Bogor: Dua bangunan di Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Bukit Hambalang yakni Power House dan venue Bulu Tangkis tidak runtuh seperti yang selama ini diberitakan. Bangunan yang diisukan runtuh akibat kontur tanah mengalami pelapukan pada Desember 2011, ternyata sengaja dihancurkan pelaksana proyek yakni PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya.

Dardi Gunawan, selaku Enginering dari PT Adhi Karya mengamini sengaja meruntuhkan dua bangunan yang masih dibangun berlantai satu dan belum beratap itu. Lantaran menurut Dardi, tanah yang amblas setinggi lima meter itu membuat dua bangunan miring dan dapat membahayakan bila terus dibangun dan demi untuk keselamatan banyak pihak.

"Awalnya jalanan di depan stadion indoor Bulutangkis dan Power House miring. Bangunan satu lantai yang belum beratap itu sengaja dirobohkan," kata Dardi, saat ditemui di Kompleks Sport Center dan Wisma Atlet Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/5).

Dardi menjelaskan, jalan di depan dua bangunan itu dibuat berundak. Pada 14 Desember 2011, jalan mengalami keretakan. Sehari kemudian jalan turun sekitar lima hingga delapan meter. "Kami lantas memindahkan alat-alat yang ada di Power House (ruang genset)," tutur Dardi.

Sejak dua bangunan dan jalan seluas 1000 meter persegi itu diratakan dengan tanah, Dardi mengatakan tak ada aktivitas apapun di sana. "Semua kegiatan dihentikan menunggu proses penyelidikan miringnya tanah selesai."

Proses penyelidikan, kata Dardi dilakukan dari pihak asuransi dan pelaksana proyek. "Pihak asuransi, yaitu Asei sudah melihat kerusakan jalan dan dua bangunan itu," tandasnya.(AIS)